Halo—halo,

pengumuman: Sekarang saya sudah pindah alamat ke http://www.pujanggakertas.com/

Artikel-artikel saya yang di blog ini tidak akan lenyap. Semuanya sudah ikut migrasi juga. Cuma mulai sekarang saya hanya akan lanjut menulis di alamat yang baru. Dengan pena yang baru, cerita yang baru, basa-basi yang baru. Silahkan mampir ya kalau lagi senggang.

Boleh dibaca, boleh ketawa, boleh dicerca.

By the way, saya juga ngetwit loh. Boleh ngikut di

http://twitter.com/pujanggakertas

Terima kasih banyak buat semuanya,

Pujangga Kertas

Advertisements

I’ve just seen this:

An old number. A story of a man and a world without lies.

Judul karya ini mengatakan segalanya dengan sangat jelas: Bagaimana kebohongan ditemukan. Sebelum itu, jujur aja, aku nggak begitu nafsu buat nonton film-film jadul dudul dengan kualitas gambar pas-pasan, dan nama Ricky Gervais sebagai empunya ide juga belum terlalu familiar buatku. But it was just happened to be in my old collection and well, sebagai seorang “movie-buff-wanna-be“, film ini tetap layak diberi respek yang sepadan dengan film-film Box Office lainnya. Karena itu, mumpung ada waktu senggang, PLAY. Bukan sebuah kritik, tapi sebuah refleksi.

“Bohong itu dosa.” Sounds familiar? Aku tau pernyataan ini datang dari ajaran beberapa agama dan sudah mendunia. Jangan salah, aku sendiri percaya sama hal ini. The Invention of Lying adalah kehidupan di mana semua manusia cuma bisa berkata jujur. No lies, no sins. Bahkan tak ada seorang pun yang bisa mendefinisikan kata “bohong”. Kesan pertama: SEMPURNA. Gimana nggak, bumi ini sudah terlalu pekat dengan dusta dan orang-orang jahat yang kerjaannya nipu orang lain.

Coba bayangin aja kalau nggak ada orang yang bohong di bumi ini. Dunia ini pasti da. mai.

.

.

.

Tapi,

(Jujur: “Tadi nyanyimu jelek banget.”)

(Bohong: “Um, lumayan oke kok tadi nyanyinya.”)

(Jujur: “Besok kamu meninggal.”)

(Bohong: “Tenang aja, nggak usah dipikirin. kamu nggak papa kok.”)

(Jujur: “Gadismu jelek, jerawatan, gendut.”)

(Bohong: “Gadismu cakep, cocok sama kamu.”)

.

.

.

Dunia tanpa kebohongan, apa bener bakal jadi damai? Tengok rumus berikut ini:

Jika

BOHONG = DOSAJUJUR = TIDAK DOSA

Bagaimana menanggapi pernyataan

“Tadi nyanyimu jelek banget.”

= JUJUR = TIDAK DOSA

atau

= Menyakiti perasaan = Membunuh harga diri = DOSA

Nope, aku nggak sedang mencari alasan buat membenarkan kebohongan atau membuat orang pusing. Sekali lagi, aku percaya bohong itu 100% dosa. Cuman, kita emang udah terlanjur terbiasa hidup di bumi yang penuh dengan kebohongan. Tentu aja, bukan berarti kita mesti ikutan bohong. Kita selalu bisa milih buat jadi jujur atau bohong, semua tergantung dari gimana kita mengaplikasikannya dan tergantung dari resipien yang menerima pernyataan kita. Teoriku, saat di mana kita menentukan bagaimana kita mengaplikasikan sebuah pernyataan adalah saat di mana pernyataan itu ditentukan akan menjadi dosa apa nggak di masa depan. Misalnya,

Terhadap sahabat baik yang siap mendengar ocehan apapun darimu, “Tadi nyanyimu jelek banget.”

= JUJUR = TIDAK DOSA

Tapi terhadap adik kelas yang baru saja kenalan tadi pagi, “Tadi nyanyimu jelek banget.”

= Tersinggung = Menyakiti perasaan = Membunuh harga diri = DOSA

.

.

.

Setuju nggak setuju, ini cuma pendapat. Dalam hidup, aku selalu berusaha untuk jadi orang jujur, walaupun susah. Dalam melontarkan pernyataan, seringkali aku menggunakan special converter, yang bisa ngebikin pernyataan yang jujur dan blak-blakan jadi terdengar lebih halus. Contoh: “Jelek” menjadi “kurang bagus”. Aku menamainya, converted honesty. Jadilah demikian:

Sender > HONESTY > Converter > Converted Honesty > Receiver

Kuakui, efek yang didapetin bakal beda. Sama halnya dengan converter di komputer, kualitas produk jadinya bakal seringkali berkurang setelah diconvert. Ada beberapa orang yang memang lebih suka untuk melontarkan pernyataan jujur yang bugil tanpa sensor. Sekali lagi, ini semua terserah, tergantung pintar-pintarnya kita mengaplikasikan hal ini terhadap resipien yang berbeda-beda. Ini adalah sebuah skill. Kemampuan berkomunikasi. Nggak bisa instant, mesti dipelajarin. Nggak gampang, tapi kalau bisa jujur, kenapa mesti bohong?

Sekian catatan hari ini dan kuucapkan, selamat berjuang menjadi orang jujur.

Pujangga Kertas

Cklek.

Kubuka jendela.

Panas. Silau. Terik matahari sungguh membuat darahku mendidih. Aku terhenyak.  Hari ini, ya, hari ini aku sudah kembali. Kembali ke pemandangan indah depan kamar yang belum cukup membuatku bosan. Kembali ke kasur mungilku yang hangat. Kembali ke facebook. Kembali kepada para pasukanku di Heroes IV Might and Magic, siap bertempur. Kembali menulis.

9 bulan aku menghilang dari peredaran, dan yang akan anda saksikan di bawah ini adalah alasannya.

Mari kita memulainya dengan hal-hal yang kecil, seperti fyp (sudah sengaja kutulis dengan huruf kecil), atau ‘skripsi’, kalau di Indonesia; plus berjibun komitmen dari kerjaan part-time, bisnis kaos kecil-kecilan, organisasi, band, gereja, pacaran, project-project sekolah yang lain dan sebagainya, dan seterusnya. Alhasil, ini adalah pertanyaan pertama yang selalu muncul ketika aku bertemu seorang teman dekat: “Lu kok bisa masih hidup sih?” Nope, it was not funny. Tetapi mungkin baik dilihat dari tampak luar ataupun dalam, sepertinya aku memang bisa dibilang mayat hidup.

Bicara soal mengatur waktu, entah aku seorang mahasiswa A+ atau F. Yang jelas, setelah mengarungi kesibukan selama 4 tahun, aku berhasil merumuskan teori ini: Yang namanya waktu itu tidak akan pernah bisa diatur. Dalam sehari, manusia punya waktu 24 jam. Pas. Tidak lebih. Tidak kurang. Dan kenyataannya, manusia tidak akan pernah bisa menambah, mengurangi, mengali atau membagi waktu. Bahkan untuk mengatur waktu saja butuh waktu. No? Karena itu, yang perlu ditaklukkan manusia itu bukan waktu, tapi KOMITMEN, atau sebut saja commitment management.

.

Dalam hidup, manusia punya kebebasan penuh buat berkomitmen. Dan setiap komitmen akan selalu diikuti konsekuensi yang berupa waktu. Gampangnya, jika mata uang States adalah US$, maka mata uang komitmen adalah waktu. Misalnya, komitmen A bernilai 40 jam/minggu, atau komitmen B bernilai 3 jam/minggu. Tiap nilai komitmen berbeda tergantung dari kuantitas kita memenuhinya.

Kesalahan yang sering terjadi, manusia biasanya cuma menghitung komitmen berdasarkan hal-hal besar seperti berorganisasi, pacaran atau tugas sekolah. Bagaimana dengan hal-hal kecil mulai dari makan, minum, mandi, tidur, gunting kuku, membersihkan kuping, gunting rambut, mengecek kotak surat, menyapu, mengepel, mencuci, menjemur, olahraga, berdoa, pergi dengan teman, cek e-mail, menelpon orang tua, dan lainnya? Yang aku tulis di atas, semuanya sama. Sama-sama disebut KOMITMEN.

Ya, ini memang bukan hal yang baru. Bukan juga petuah. Atau dongeng sebelum tidur.

Orang boleh menyebutnya mengatur waktu, mengatur komitmen, mengatur diri, aktivitas, whatever. Selama kita tau konsep dasar soal komitmen ini, paling tidak kita aman dari yang namanya frustasi, stres dan rumah sakit jiwa. Nenek bilang, jangan selalu menyalahkan waktu ataupun bilang waktu kita tidak cukup untuk melakukan ini dan itu. Kita manusia sering tidak sadar kalau ‘bagaimana kita melakukan suatu hal’ itu juga memegang peran penting dalam aktivitas kita sehari-hari. Tidak percaya? Gampangnya,

Pertanyaan yang benar: “Berapa lama kamu tidur?” atau “Seberapa susah kamu bangun?”

plus

Pertanyaan yang benar: “Berapa jauh jarak rumahmu ke kampus?” atau “Seberapa cepat kamu berjalan?”

.

Melihat komitmen dan waktu dari perspektif yang berbeda memang bukan hal yang mudah. Aku menimba ilmu yang sama selama lebih dari dua puluh tahun. Sampai sekarang pun, aku belum bisa menjadi mahaguru. Kutengok kembali satu tahun terakhirku di kampus. Sebut saja pengalaman ini seperti ujian. Pengalaman bergelut dengan kakek nenek bapak ibunya kesibukan. Pengalaman edan. Hahaha. Tapi akhirnya aku berhasil menyelesaikan ujian. Walaupun dengan keringat banjir, aku tidak menyesal.

After all, it was my final year. I’ve made it big. I’ve made it remarkable. I’ve made it forever.

Dan kuambil toa yang suaranya lebih kencang dari vuvuzela manapun yang ada di bumi. Kuproklamirkan dengan segenap jiwa dan raga: “AKU TELAH SUKSES MENJADI ORANG GILA SETAHUN.”

Bersamaan dengan itu,

TING-TONG.

Bel berbunyi. Karena itu pelajaran pak guru juga selesai sampai di sini.

Matur nuwun,

Pujangga Kertas

gold-optimus-prime-walking

eagle

Disclaimer:
Ini bukan sebuah kritik film. Kalaupun iya, dalam wujud yang berbeda.

sex-and-the-city-the-movie-1-1024

Klik. Klik. Klik.

H-E-L-P. Kursorku berputar-putar tanpa juntrungan.

My computer, desktop. My document, my computer, desktop. My… Ini adalah wujud paling puncak dari sebuah pengangguran! Percayalah, don’t try this at home. Mengerikan.

Akhirnya: My movies. Never been here for quiet a while. Koleksiku nggak banyak, aku bukan penonton berat. Terbukti dengan kadar keseringanku pergi ke bioskop–sama halnya dengan makanan, bisa dibilang; aku cukup pemilih. Kursorku terhenti di sebuah film yang sudah lama sekali rasanya belum kutonton: “Sex and the City”. Ya ya, silahkan tertawa demi menghargai kejadulan manusia yang super ketinggalan jaman ini. Hahaha. Tanpa berpikir panjang,

Open with. Windows Media Player.

sex_and_the_citychar

Empat sahabat–Charlotte, Carrie, Samantha, Miranda–mereka yang mengarungi hidup di sebuah tempat yang *konon katanya* orang-orang datangi demi dua tujuan pasti: labels and love, New York. Jujur saja, aku cukup terkejut karena menyaksikan film ini membuatku terinspirasi. Entah apa itu karena Carrie yang adalah juga seorang penulis, atau apa karena skrip film ini ditulis penuh dengan bahasa sastra, atau apa karena aku saja yang memang sedang mencari-cari alasan untuk menulis? No one knows, but here it goes.

1. “.. I’ve managed to stay exactly where I was: in love.” –Carrie.
Aku berpikir, apa kalimat “I’ve managed” di depan memang menunjukkan kalau sebenarnya nggak gampang buat manusia tetap berada dalam kondisi “jatuh cinta”? Sebut saja jika cinta itu bisa diukur dari segi kualitas dan kuantitasnya, dan petualangan cinta terbagi atas beberapa fase sejak pertama kali jatuh cinta, pacaran, menikah, sampai masa tua; coba bayangin deh, apa kira-kira nilainya selalu sama? Kalau para tetua bilang sih, “The only constant is change.” Yang aku percaya, setiap manusia memiliki tolok ukurnya masing-masing untuk tetap berada dalam kondisi “jatuh cinta”. Dan hal yang terpenting dalam menjaga hubungan adalah untuk menjaga nilai itu supaya tidak sampai berada di bawah standar.

2. “.. A man who got carried away.” –Samantha.
Aku lelaki yang sudah pernah jatuh cinta. Mendengar kata “carried away” membuatku tersenyum kecil. “Carried away”, mungkin kalau kita terjemahkan ke Bahasa Indo jadinya “terbuai”. Err, nggak tau kenapa, kok jadi terkesan lebai banget. Hahaha. Filosofi bilang kalau lelaki itu lebih mudah jatuh cinta daripada wanita. Percaya? Mari kita melihat contoh-contoh kasus di bawah ini.

a. Emm, aku suka sama dia soalnya dia cakep sih. Pinter dan baek hati pula.
b. Di antara semua cewek-cewek di gereja, dia yang aku rasa paling dewasa, paling bisa ngasih aku pandangan dan jalan keluar buat nyelesaiin masalah-masalahku. Aku yakin dia adalah pasangan yang Tuhan udah siapin buat aku.
c. Waktu itu kita tidak sengaja bertemu di sebuah seminar dan dia duduk di sebelah saya. Setelah ngobrol, ternyata kita banyak kesamaan dan saya mulai tertarik sama dia.
d. Bro, lo nggak liat apa bodynya yang aduhai gitu?! Gimana bisa gua nggak jatuh cinta?!!
e. Tuh cewek asli geje banget! Tapi percaya nggak percaya, that’s the reason I have a crush on her.

Dan sesederhana itulah kami, para pria jatuh cinta. Masih banyak lagi alasan-alasan bodoh, asusila dan nggak masuk akal dari para pria untuk jatuh cinta: Cinta sejati. Tempat curhat. Sumber duit. Dukungan moral. Harga diri. Tukang masak. Teman kencan. Seks. Tapi karena alasan bodoh yang sama juga, para pria rela melakukan segalanya demi mengejar cinta dan membuat takjub para wanita. Helplessly in love–mereka bilang. Tapi soal mempertahankan cinta, percayalah; pria adalah tukang mikir, pribadi yang kompleks dan banyak pertimbangan. Sebaliknya, mungkin adalah sebuah kompleksitas mengapa kebanyakan wanita lebih sulit untuk jatuh cinta.  Tapi yang terjadi, setelah mereka jatuh cinta; mereka akan bilang, “Nggak perlu alasan apapun buat aku mencintai kamu. Kenyataannya, mau kaya gimana juga aku sayang sama kamu.” Dan sesederhana itulah para wanita mempertahankan cinta. Nah, sekarang. Nggak peduli cowok, nggak peduli cewek. Nggak peduli mana yang salah, mana yang bener. Pertanyaannya, sejauh apakah kita bisa mencintai seseorang? To be in love is a good thing, but to be carried away by love is another thing.

3. “You know, it’s not my style.” –John.
Setiap cowok punya caranya masing-masing buat mencintai cewek. Cewek, punya kriterianya sendiri bagaimana cowok mesti mencintai cewek. Nah, masalahnya; terkadang kriteria-kriteria tersebut nggak klop sama caranya cowok. Esensinya, waktu seorang cowok mencintai cewek dengan berjuang memenuhi kriteria si cewek walaupun itu bukan caranya si cowok mencintai cewek seperti biasanya; guess what’s next? … B-O-O-M! Fenomena paling mengharukan buat si cewek bakal terjadi. Dan kalau momennya tepat banget, nggak sampai semenit aja, tanpa disadari; air mata kebahagiaan sudah mengalir bak derasnya sungai Bengawan Solo. Oh, indahnya cinta.

Nah, sebenarnya ada beberapa kuotasi lainnya yang nggak kalah menarik sama yang di atas. Tetapi karena satu dan lain hal, sepertinya tidak akan tercantum di halaman ini sampai waktu yang tidak ditentukan. Meanwhile, bagi yang penasaran, boleh nonton langsung filmnya. Percayalah, lebih guna ketimbang nonton bokep. Hahaha.

PS: Ini adalah salah satu rangkuman yang bisa kutulis berdasarkan tuntunan dari film. Jadi wajar-wajar aja kalau ada cewek yang protes sewaktu ngebaca bagian ini.

Bisa dipastikan, dia menjamur.

Nggak sadar sekarang sudah pertengahan Juni. Banyak hal yang seharusnya masih bisa dikerjain selain ngelamun di siang bolong, contohnya ngangkat jemuran di halaman depan; mengingat angin muson barat daya sudah bertiup, pertanda musim hujan. Yah, tapi tetep aja; in the end,

TET-TOT. Semua gagal.

Kalender bulan Juni sudah sengaja dia hiasi dengan dua buah lingkaran merah yang cantik. Yang satu di tanggal 16, dan yang lain di 17. Masih ingat nggak, dulu para leluhur sering bertitah kalau warna merah itu pertanda bahaya, benar? Ehm, tidak lain dan tidak bukan, 16 dan 17 adalah angka keramat yang mewakili tanggal ujiannya. Sebagai mahasiswa yang baik dan berbakti, tentu saja dia belajar. Kali ini, bukan karena formalitas; tapi memang dia belajar karena nggak ngerti apa-apa dan perlu belajar. Nggak perlu ngedatengin konsultan buat bilang ke dia, “Belajarlah pada semut.”

Ya, Dia memang mengerti sedikit soal teologi. Tapi kenyataannya, semut itu nggak ngomong. Sedangkan hal yang terpenting dalam proses belajar mengajar adalah lancarnya komunikasi. Jadi dia berasumsi, buat ngerti mereka ya bakalan makan waktu. Setelah bermeditasi sejenak, dia memutuskan; cara yang paling cepat, tepat dan efisien buat belajar ujian sekaligus belajar jadi rajin dari semut adalah dengan mengganti kalimat bijak tersebut menjadi,

“Belajarlah bersama semut.”

.

Yang dia rasakan saat ini:

Bosan. Bosan belajar. Bosan main. Bosan nyuci. Bosan ngejemur. Bosan ngelamun. Bosan makan makanan yang sama terus di kantin yang sama pula. Bosan tidur. Bosan bangun pagi. Bosan dan lain-lain.

Kangen. Kangen rumah. Kangen ayah dan bunda. Kangen abang dan non. Kangen bebek yang baru saja potong poni. Kangen temen-temen. Kangen para sahabat gila. Kangen bercinta dengan gitar. Kangen kepiting. Kangen dan seterusnya.

Walaupun sibuk ambil kelas selama liburan tapi bosan dan kadang nganggur serta bingung mau ngapain, satu pekerjaan pasti yang dia bisa lakuin buat saat ini *dan sampai batas waktu yang tidak ditentukan* adalah menikmatinya. Ngelanjutin bahan-bahan ujian yang masih nyisa. Mainin ulang game yang sudah pernah ditamatin 2 kali. Makan lauk pauk yang bercita rasa sama tapi dengan ekspektasi yang berbeda.

Kalau dipikir-pikir, terkadang indah; dan lucu juga–Lucu untuk menyaksikan seorang manusia super sibuk yang sebenarnya sedang menikmati kebosanan.

Hahaha. Dan dia tertawa.

didedikasikan buat mereka yang juga sedang berjuang menikmati kebosanan,

Pujangga Kertas.

canon-digital-rebel-xt-8mp-digital-slr-camera-1