You are currently browsing the monthly archive for November 2010.
I’ve just seen this:
An old number. A story of a man and a world without lies.
Judul karya ini mengatakan segalanya dengan sangat jelas: Bagaimana kebohongan ditemukan. Sebelum itu, jujur aja, aku nggak begitu nafsu buat nonton film-film jadul dudul dengan kualitas gambar pas-pasan, dan nama Ricky Gervais sebagai empunya ide juga belum terlalu familiar buatku. But it was just happened to be in my old collection and well, sebagai seorang “movie-buff-wanna-be“, film ini tetap layak diberi respek yang sepadan dengan film-film Box Office lainnya. Karena itu, mumpung ada waktu senggang, PLAY. Bukan sebuah kritik, tapi sebuah refleksi.
“Bohong itu dosa.” Sounds familiar? Aku tau pernyataan ini datang dari ajaran beberapa agama dan sudah mendunia. Jangan salah, aku sendiri percaya sama hal ini. The Invention of Lying adalah kehidupan di mana semua manusia cuma bisa berkata jujur. No lies, no sins. Bahkan tak ada seorang pun yang bisa mendefinisikan kata “bohong”. Kesan pertama: SEMPURNA. Gimana nggak, bumi ini sudah terlalu pekat dengan dusta dan orang-orang jahat yang kerjaannya nipu orang lain.
Coba bayangin aja kalau nggak ada orang yang bohong di bumi ini. Dunia ini pasti da. mai.
.
.
.
Tapi,
(Jujur: “Tadi nyanyimu jelek banget.”)
(Bohong: “Um, lumayan oke kok tadi nyanyinya.”)
(Jujur: “Besok kamu meninggal.”)
(Bohong: “Tenang aja, nggak usah dipikirin. kamu nggak papa kok.”)
(Jujur: “Gadismu jelek, jerawatan, gendut.”)
(Bohong: “Gadismu cakep, cocok sama kamu.”)
.
.
.
Dunia tanpa kebohongan, apa bener bakal jadi damai? Tengok rumus berikut ini:
Jika
BOHONG = DOSA; JUJUR = TIDAK DOSA
Bagaimana menanggapi pernyataan
“Tadi nyanyimu jelek banget.”
= JUJUR = TIDAK DOSA
atau
= Menyakiti perasaan = Membunuh harga diri = DOSA
Nope, aku nggak sedang mencari alasan buat membenarkan kebohongan atau membuat orang pusing. Sekali lagi, aku percaya bohong itu 100% dosa. Cuman, kita emang udah terlanjur terbiasa hidup di bumi yang penuh dengan kebohongan. Tentu aja, bukan berarti kita mesti ikutan bohong. Kita selalu bisa milih buat jadi jujur atau bohong, semua tergantung dari gimana kita mengaplikasikannya dan tergantung dari resipien yang menerima pernyataan kita. Teoriku, saat di mana kita menentukan bagaimana kita mengaplikasikan sebuah pernyataan adalah saat di mana pernyataan itu ditentukan akan menjadi dosa apa nggak di masa depan. Misalnya,
Terhadap sahabat baik yang siap mendengar ocehan apapun darimu, ”Tadi nyanyimu jelek banget.”
= JUJUR = TIDAK DOSA
Tapi terhadap adik kelas yang baru saja kenalan tadi pagi, “Tadi nyanyimu jelek banget.”
= Tersinggung = Menyakiti perasaan = Membunuh harga diri = DOSA
.
.
.
Setuju nggak setuju, ini cuma pendapat. Dalam hidup, aku selalu berusaha untuk jadi orang jujur, walaupun susah. Dalam melontarkan pernyataan, seringkali aku menggunakan special converter, yang bisa ngebikin pernyataan yang jujur dan blak-blakan jadi terdengar lebih halus. Contoh: “Jelek” menjadi “kurang bagus”. Aku menamainya, converted honesty. Jadilah demikian:
Sender > HONESTY > Converter > Converted Honesty > Receiver
Kuakui, efek yang didapetin bakal beda. Sama halnya dengan converter di komputer, kualitas produk jadinya bakal seringkali berkurang setelah diconvert. Ada beberapa orang yang memang lebih suka untuk melontarkan pernyataan jujur yang bugil tanpa sensor. Sekali lagi, ini semua terserah, tergantung pintar-pintarnya kita mengaplikasikan hal ini terhadap resipien yang berbeda-beda. Ini adalah sebuah skill. Kemampuan berkomunikasi. Nggak bisa instant, mesti dipelajarin. Nggak gampang, tapi kalau bisa jujur, kenapa mesti bohong?
Sekian catatan hari ini dan kuucapkan, selamat berjuang menjadi orang jujur.
Pujangga Kertas


Apa Kata Mereka