gold-optimus-prime-walking

eagle

Disclaimer:
Ini bukan sebuah kritik film. Kalaupun iya, dalam wujud yang berbeda.

sex-and-the-city-the-movie-1-1024

Klik. Klik. Klik.

H-E-L-P. Kursorku berputar-putar tanpa juntrungan.

My computer, desktop. My document, my computer, desktop. My… Ini adalah wujud paling puncak dari sebuah pengangguran! Percayalah, don’t try this at home. Mengerikan.

Akhirnya: My movies. Never been here for quiet a while. Koleksiku nggak banyak, aku bukan penonton berat. Terbukti dengan kadar keseringanku pergi ke bioskop–sama halnya dengan makanan, bisa dibilang; aku cukup pemilih. Kursorku terhenti di sebuah film yang sudah lama sekali rasanya belum kutonton: “Sex and the City”. Ya ya, silahkan tertawa demi menghargai kejadulan manusia yang super ketinggalan jaman ini. Hahaha. Tanpa berpikir panjang,

Open with. Windows Media Player.

sex_and_the_citychar

Empat sahabat–Charlotte, Carrie, Samantha, Miranda–mereka yang mengarungi hidup di sebuah tempat yang *konon katanya* orang-orang datangi demi dua tujuan pasti: labels and love, New York. Jujur saja, aku cukup terkejut karena menyaksikan film ini membuatku terinspirasi. Entah apa itu karena Carrie yang adalah juga seorang penulis, atau apa karena skrip film ini ditulis penuh dengan bahasa sastra, atau apa karena aku saja yang memang sedang mencari-cari alasan untuk menulis? No one knows, but here it goes.

1. “.. I’ve managed to stay exactly where I was: in love.” –Carrie.
Aku berpikir, apa kalimat “I’ve managed” di depan memang menunjukkan kalau sebenarnya nggak gampang buat manusia tetap berada dalam kondisi “jatuh cinta”? Sebut saja jika cinta itu bisa diukur dari segi kualitas dan kuantitasnya, dan petualangan cinta terbagi atas beberapa fase sejak pertama kali jatuh cinta, pacaran, menikah, sampai masa tua; coba bayangin deh, apa kira-kira nilainya selalu sama? Kalau para tetua bilang sih, “The only constant is change.” Yang aku percaya, setiap manusia memiliki tolok ukurnya masing-masing untuk tetap berada dalam kondisi “jatuh cinta”. Dan hal yang terpenting dalam menjaga hubungan adalah untuk menjaga nilai itu supaya tidak sampai berada di bawah standar.

2. “.. A man who got carried away.” –Samantha.
Aku lelaki yang sudah pernah jatuh cinta. Mendengar kata “carried away” membuatku tersenyum kecil. “Carried away”, mungkin kalau kita terjemahkan ke Bahasa Indo jadinya “terbuai”. Err, nggak tau kenapa, kok jadi terkesan lebai banget. Hahaha. Filosofi bilang kalau lelaki itu lebih mudah jatuh cinta daripada wanita. Percaya? Mari kita melihat contoh-contoh kasus di bawah ini.

a. Emm, aku suka sama dia soalnya dia cakep sih. Pinter dan baek hati pula.
b. Di antara semua cewek-cewek di gereja, dia yang aku rasa paling dewasa, paling bisa ngasih aku pandangan dan jalan keluar buat nyelesaiin masalah-masalahku. Aku yakin dia adalah pasangan yang Tuhan udah siapin buat aku.
c. Waktu itu kita tidak sengaja bertemu di sebuah seminar dan dia duduk di sebelah saya. Setelah ngobrol, ternyata kita banyak kesamaan dan saya mulai tertarik sama dia.
d. Bro, lo nggak liat apa bodynya yang aduhai gitu?! Gimana bisa gua nggak jatuh cinta?!!
e. Tuh cewek asli geje banget! Tapi percaya nggak percaya, that’s the reason I have a crush on her.

Dan sesederhana itulah kami, para pria jatuh cinta. Masih banyak lagi alasan-alasan bodoh, asusila dan nggak masuk akal dari para pria untuk jatuh cinta: Cinta sejati. Tempat curhat. Sumber duit. Dukungan moral. Harga diri. Tukang masak. Teman kencan. Seks. Tapi karena alasan bodoh yang sama juga, para pria rela melakukan segalanya demi mengejar cinta dan membuat takjub para wanita. Helplessly in love–mereka bilang. Tapi soal mempertahankan cinta, percayalah; pria adalah tukang mikir, pribadi yang kompleks dan banyak pertimbangan. Sebaliknya, mungkin adalah sebuah kompleksitas mengapa kebanyakan wanita lebih sulit untuk jatuh cinta.  Tapi yang terjadi, setelah mereka jatuh cinta; mereka akan bilang, “Nggak perlu alasan apapun buat aku mencintai kamu. Kenyataannya, mau kaya gimana juga aku sayang sama kamu.” Dan sesederhana itulah para wanita mempertahankan cinta. Nah, sekarang. Nggak peduli cowok, nggak peduli cewek. Nggak peduli mana yang salah, mana yang bener. Pertanyaannya, sejauh apakah kita bisa mencintai seseorang? To be in love is a good thing, but to be carried away by love is another thing.

3. “You know, it’s not my style.” –John.
Setiap cowok punya caranya masing-masing buat mencintai cewek. Cewek, punya kriterianya sendiri bagaimana cowok mesti mencintai cewek. Nah, masalahnya; terkadang kriteria-kriteria tersebut nggak klop sama caranya cowok. Esensinya, waktu seorang cowok mencintai cewek dengan berjuang memenuhi kriteria si cewek walaupun itu bukan caranya si cowok mencintai cewek seperti biasanya; guess what’s next? … B-O-O-M! Fenomena paling mengharukan buat si cewek bakal terjadi. Dan kalau momennya tepat banget, nggak sampai semenit aja, tanpa disadari; air mata kebahagiaan sudah mengalir bak derasnya sungai Bengawan Solo. Oh, indahnya cinta.

Nah, sebenarnya ada beberapa kuotasi lainnya yang nggak kalah menarik sama yang di atas. Tetapi karena satu dan lain hal, sepertinya tidak akan tercantum di halaman ini sampai waktu yang tidak ditentukan. Meanwhile, bagi yang penasaran, boleh nonton langsung filmnya. Percayalah, lebih guna ketimbang nonton bokep. Hahaha.

PS: Ini adalah salah satu rangkuman yang bisa kutulis berdasarkan tuntunan dari film. Jadi wajar-wajar aja kalau ada cewek yang protes sewaktu ngebaca bagian ini.

Bisa dipastikan, dia menjamur.

Nggak sadar sekarang sudah pertengahan Juni. Banyak hal yang seharusnya masih bisa dikerjain selain ngelamun di siang bolong, contohnya ngangkat jemuran di halaman depan; mengingat angin muson barat daya sudah bertiup, pertanda musim hujan. Yah, tapi tetep aja; in the end,

TET-TOT. Semua gagal.

Kalender bulan Juni sudah sengaja dia hiasi dengan dua buah lingkaran merah yang cantik. Yang satu di tanggal 16, dan yang lain di 17. Masih ingat nggak, dulu para leluhur sering bertitah kalau warna merah itu pertanda bahaya, benar? Ehm, tidak lain dan tidak bukan, 16 dan 17 adalah angka keramat yang mewakili tanggal ujiannya. Sebagai mahasiswa yang baik dan berbakti, tentu saja dia belajar. Kali ini, bukan karena formalitas; tapi memang dia belajar karena nggak ngerti apa-apa dan perlu belajar. Nggak perlu ngedatengin konsultan buat bilang ke dia, “Belajarlah pada semut.”

Ya, Dia memang mengerti sedikit soal teologi. Tapi kenyataannya, semut itu nggak ngomong. Sedangkan hal yang terpenting dalam proses belajar mengajar adalah lancarnya komunikasi. Jadi dia berasumsi, buat ngerti mereka ya bakalan makan waktu. Setelah bermeditasi sejenak, dia memutuskan; cara yang paling cepat, tepat dan efisien buat belajar ujian sekaligus belajar jadi rajin dari semut adalah dengan mengganti kalimat bijak tersebut menjadi,

“Belajarlah bersama semut.”

.

Yang dia rasakan saat ini:

Bosan. Bosan belajar. Bosan main. Bosan nyuci. Bosan ngejemur. Bosan ngelamun. Bosan makan makanan yang sama terus di kantin yang sama pula. Bosan tidur. Bosan bangun pagi. Bosan dan lain-lain.

Kangen. Kangen rumah. Kangen ayah dan bunda. Kangen abang dan non. Kangen bebek yang baru saja potong poni. Kangen temen-temen. Kangen para sahabat gila. Kangen bercinta dengan gitar. Kangen kepiting. Kangen dan seterusnya.

Walaupun sibuk ambil kelas selama liburan tapi bosan dan kadang nganggur serta bingung mau ngapain, satu pekerjaan pasti yang dia bisa lakuin buat saat ini *dan sampai batas waktu yang tidak ditentukan* adalah menikmatinya. Ngelanjutin bahan-bahan ujian yang masih nyisa. Mainin ulang game yang sudah pernah ditamatin 2 kali. Makan lauk pauk yang bercita rasa sama tapi dengan ekspektasi yang berbeda.

Kalau dipikir-pikir, terkadang indah; dan lucu juga–Lucu untuk menyaksikan seorang manusia super sibuk yang sebenarnya sedang menikmati kebosanan.

Hahaha. Dan dia tertawa.

didedikasikan buat mereka yang juga sedang berjuang menikmati kebosanan,

Pujangga Kertas.

canon-digital-rebel-xt-8mp-digital-slr-camera-1

bird-nest

6a00d8341e26ef53ef00e5518b4e098834-800wi

Jumat, 15 Mei 2009. Sekitar pukul 10:30 malam.

Lelaki (L): “.. ke NTU ya.”

Supir Taksi (ST): “Oh, ok.”

Masuk gigi 1, siap lepas landas.

ST: “Hall berapa?”

L: “Mm, dua.”

ST: “Kamu jurusan akuntansi?”

L: “Eh, saya..”

ST: “Benar kan? Kelihatan kok.. Lagian orang-orang yang tinggal di Hall 2 juga pasti orang-orang yang ‘punya otak’. Hahaha.”

L: “Iya gitu? Hahaha.”

Hening.

L: “Sepertinya paman tau banyak tentang NTU.. Dulu pernah belajar di sana?”

ST: “Hmph,”

Supir taksi mulai tertawa sinis.

ST: “Kalau saya sempat belajar di sana, saya nggak mungkin nyetirin kamu pulang sekarang.”

L: “Oh,”

ST: “Kamu belajar di sana, makanya mikirnya saya sempat belajar di sana. Haha.”

L: “Hahaha.”

ST: “Saya dulu kerja konstruksi bangunan, banyak di NTU.”

L: “Ah..”

Saling mencari bahan untuk digubris.

L: “Hari ini rencana nyetir sampai jam berapa?”

ST: “Mm, jam 5 pagi mungkin.”

L: “Biasa nunggu customer dimana?”

ST: “Hahaha,”

L: “Mm?”

ST: “Kamu nggak pergi clubbing?”

L: “Eh?”

ST: “Nggak pernah kan?”

L: “Pernah sih, tapi jarang banget. Sekali dua kali aja..”

ST: “Sudah saya duga. Haha, kamu nggak tau kan kehidupan malam itu kaya gimana? Saya tinggal nunggu orang di Orchard bentar aja sudah pasti dapat.. Kamu belajar terus ya?”

L: “Oh..”

ST: “Mesti terbuka kamu pikirannya. Jangan cuma belajar aja di kampus. Sana pergi clubbing.”

L: “Hmm..”

ST: “Ada kehidupan lain yang kmu nggak tau di luar sana. Kamu mesti bisa adaptasi juga sama mereka. Orang-orang yang kaya gini yang bakal bisa jadi orang sukses di masa depan.”

L: “Another kind of life?

ST: “Ya, saya percaya. Saya tau mereka. Hampir tiap hari saya nganterin orang-orang kaya mereka pulang. Jam 4 pagi, jam 5 pagi..”

L: “Oh..”

Clubbing adalah bagian dari kesuksesan.

L: “Ng, lewat Pioneer ya. Kan saya Hall 2.”

ST: “Haha, sebenarnya lewat jalan mana juga bisa sih. Jalan Bahar, Pioneer, semua ujung-ujungnya juga ke NTU.”

L: “Menurut paman, mana lebih dekat ke Hall 2?”

ST: “Mm, saya bakal pilih Jalan Bahar.”

Taksi memasuki Pioneer, memutar di pengkolan pertama menuju Hall 2.

ST: “Hall 1.. Hall 6..”

L: “…”

Sampai.

L: “Ini, paman. Terima kasih banyak ya.”

ST: “Sama-sama. Sampai bertemu lagi.”

L: “Anyway,

ST: “Ya?”

L: “Saya bukan akuntan. Saya seniman.”

Akhir dialog.

Kami berada di sebuah bianglala.

Kriet. Kriet. Kriet.

Ya, bianglala ini berputar.

Kriet.

Selain suara ini, kami hanya mendengar para jangkrik yang sedang berorkestra ria. Seperti sedang berusaha menghidupkan suasana demi dua sejoli yang terdampar di satu bilik bianglala ini tanpa kata. Hanya terdiam. Saling menunggu giliran bersuara.

“T, Tha, saya..” paparnya gugup, “.. Ehm, aku..”

“Ya?”

“Aku minta maaf banget kalau aku tiba-tiba ngebawa kamu ke sini, Tha.”

“…”

“Iya, nggak papa kok, Bri. Memang lo mau ngomong apa?”

Ah. So Stereotype! Gue tau lanjutannya. Coba gue tebak, kata selanjutnya pasti “sebenernya” dan blablabla.

“Tha, kamu tau nggak, kenapa aku ngebawa kamu naik bianglala ini?”

Eh,

“Karena lo nggak mau ngebawa gue naik biangdongdong?”

“…”

Sial. Gue keceplosan. Sempet-sempetnya ngejayus di momen penting kayak gini. Dasar wanita sesat.

“Oh, bukan.. Sebenernya aku..”

.

.

.

And here it goes.

***

Hari Pertama.

Gue lari meninggalkan lelaki itu di belakang. Gue nggak peduli lagi. Gue menangis, kenceng banget sampai rasanya orang-orang yang lewat pada ngeliatin. Selamat, Jo. Lo berhasil. Seumur hidup gue, gue nggak bakalan ngelupa…

.. Eh, tunggu.

Tadi itu..

.. Sepanjang gue berlari, em, kok rasanya.. Gue ngeliat Brian. Ya, nggak salah lagi. Meskipun indra penglihatan gue sudah takabur oleh air mata, tapi gue yakin, itu Brian.

“Cheer up =)”

Sebuah SMS masuk.

Sender: Adithya Brian.

Sekarang semuanya jelas. Brian, tanpa gue sadari, sudah jadi orang pertama yang tau masalah gue tanpa perlu gue ngomong panjang lebar. Gelagat gue seolah-olah sudah nyeritain semuanya dan ngebuat dia mengerti. Dan Brian, sekaligus sudah jadi orang pertama yang nyemangatin gue. Walaupun simple, entah kenapa, ngebaca dua kata ini malah ngebikin gue makin menangis. Tapi jujur, gue bener-bener berterima kasih atas dua kata ini.

Hari Kedua.

Fenomena berikutnya terjadi di stall bakso Mas Atong. Gue makan bareng Rina. Bakso porsi Rp5000,00 komplit dengan siomay kering kesukaan gue, as usual. Tapi hari itu kami tidak makan dengan tabiat fundamental cewe-cewe pada umumnya. No cliche. No chalk talk. No gossip. Sepertinya dia sudah ngerti ada yang salah sama gue. Cuma nggak tau apa itu. Rina memang nanya berkali-kali sih, tapi gue nggak jawab. Tepatnya, gue belum mau ngejawab. Gue juga rasanya nggak mungkin kalau cerita aibnya si Jo ke Rina. Gue masih trauma, dan nggak mau mengingat kejadian kemarin. At least, for now.

Kubawa mata gue ke sudut kanan lapangan. Ada Brian. Lagi makan bakso juga. Detik berikutnya, dia ngeliat gue. Tersenyum. Dia mengangkat tangannya pelan-pelan, menuturkan sebuah tanda. Sebuah isyarat.

“Jangan sedih, Tha,” tuturnya.

Gue mengangguk, dan tersenyum balik. Dia melanjutkan bahasa tubuhnya dengan mulai memainkan kedua tangannya seperti halnya di panggung boneka.

“Tha, kamu cerita sama Rina. Tapi kalau kamu nggak bisa, kamu boleh cerita sama saya kapan aja, ok?”

Sekali lagi gue terdiam. Lalu mengangguk. Kami berdua kembali tersenyum, sambil menikmati bakso panas Mas Atong. Dalam momen pendek ini, gue ngerasa tenang, dan perasaan gue lebih lega. Bukan karena bakso ini. Bukan Rina. Tapi cuma seorang lelaki yang jago berisyarat. Sederhana, tapi penuh makna.

Hari Ketiga.

Rina marah sama gue. Alasannya? Jelas, karena gue nggak cerita soal putusnya gue sama Jo secara mendadak dan dia denger hal ini dari orang lain. Sepertinya Jo sudah bilang ke sahabat-sahabatnya soal ini. Hh, mesti siap mental deh gue dari sekarang.

“Bener-bener sori banget, Rin.”

Dia masih ngambek. Bahkan sampai gue jamuran juga Rina belum ngehubungin gue lagi.

“.. Sesungguhnya ‘ku tak rela jika kau tetap bersama dirinya..”

Handphone gue berbunyi.

Gue angkat. Sambil berharap ini Rina.

“.. Halo?”

“Malem, Tha. Kamu sibuk?”

Suara lelaki. Gue kenal suara ini. Dia bukan Jo.

Malam itu, gue ceritain semuanya. Sebentar nangis, sebentar ketawa. Duh, emo banget gue beneran. Gue sadar ternyata gue memang nggak sanggup memendam semuanya sendirian. Meskipun dia bukan Rina, gue bersyukur banget dia nelpon gue, dan ngedengerin gue sampai akhir.

“Saya.. Aku tau kok, Tha.”

“Eh? L, lo tau Jo kayak gitu?”

“Hmm, iya. Inget gak pas dulu aku ketangkep ngebawa VCD bokep pas penggeledahan? Benernya itu semua punya Jo. Aku ada liat temennya sih masukin ke tasku.”

“Eehh?!! T, terus kok lo terima aja jadi tertuduh gitu? Guru-guru gimana?”

“Justru sebaliknya. Benernya waktu itu aku ke ruang BP, buat ngebahas hal ini sama guru-guru. Mereka benernya memang sudah curiga sama Jo, tapi aku sendiri bilang kalau aku pengen memastikan sendiri dulu.”

“Kok lo nggak bilang gue?”

“Kamu sudah terlanjur jadian duluan, Tha. Aku benernya pengen bilang ke kamu setelah semuanya jelas. Daripada aku ngebikin cerita yang sebenernya nggak ada. Entar kan malah bisa tambah hancur..”

“Jadi sekarang.. Lo baru tau kepastiannya, Bri?”

“Iya. Tepatnya, sekitar sebulan yang lalu. Tapi aku nggak berani ngomong dan ngerusak hubungan kalian gitu aja.. Makanya sejak saat itu, maaf ya, Tha.. aku kadang ngikutin kamu sama Jo pas kalian pergi bareng. Aku kepikiran aja. Jadi just to make sure that you are okay.”

Sisa percakapan di telpon itu hampir semuanya berisi tangisan. Tentu saja, dari gue. Gue nggak sadar ternyata selama ini selalu ada yang ngejagain gue. Ngelindungin gue dari “pacar” gue. Hari ini gue baru tau, Margaretha Soenaryo Isman, punya seorang malaikat.

Hari Keempat.

Gue sakit. Bukan karena obrolan 3 jam semalem, tapi mungkin gara-gara kebanyakan nangis. Gue nggak tau sih ya ada atau nggaknya korelasi antara tangisan sama penyakit dalam sejarah kedokteran. Nggak penting ah. Lebih penting rasanya buat gue menyusun agenda gue di rumah hari ini: facebook. Nonton. Facebook. Nonton. Facebook.

TING TONG.

Rina dateng ngejenguk. Tampangnya asli memelas banget.

“Sori soal kemaren ya, Tha. Lo nggak papa, kan? Gue kayaknya sudah terlalu keras sama lo..”

“Iya, nggak papa kok, Rin. Nyante aja, lo. Hahaha.”

Ya, gue sudah baikan. Sudah bisa tertawa. Sudah bisa gila lagi layaknya Etha yang biasanya. Secara papi mami lagi ngantor, jadi kamilah penguasa di rumah sekarang. Hahaha, bergeje ria sama Rina memang ternyata tetap menjadi hal yang membahagiakan. Tapi ngomong-ngomong, kok hari ini dia nggak SMS atau nelpon ya.

Duh, kok gue jadi kepikiran sih.

Lelaki itu, lagi ngapain ya.

“Oh ya, Tha.. Tadi gue ketemu si Brian pas pulang sekolah.” sahut Rina tersenyum.

“Haa?” gue kaget. Sekaligus salting. Panjang umur banget tuh anak beneran.

“Tadi dia ngasih ini ke gue, terus suruh nganterin ke lo. Katanya lo nitip.”

Eh,

sejak kapan gue nitip bakmie GM??

“Me, memang dia bilangnya gimana, Rin?”

“Oh, dia bilang sih katanya lo lagi ngidam. Terus tadi dia sempet lewatin bakmie GM gitu, jadinya ya dia beli aja, tapi karena nggak sempet nganter, ya dikasih gue deh, suruh  gue yang nganterin ke tempat lo. Hahaha. Memang dia tau lo sakit ya, Tha? Gue kira lo cuma ngasih tau gue aja buat titip absen kelas..”

“Eh, i, iya sih.. Dia tau.”

Nggak benernya. Gue nggak pamer ke siapa-siapa kalau gue sakit kecuali sama Rina. Tapi kok dia bisa tau gue nggak masuk ya. Dan memang lagi pengen makan bakmie GM..

.. Ah, semalem! Ya, semalem kayaknya kita ada ngomongin ini.

“Tha, kamu sakit ya? Suaranya sudah kayak mau pilek gitu..”

“Ah, nggaklah.. Ini namanya syndrome ngidam bakmie GM. Hahaha.”

.. Nggak mungkin ah. Percakapan kecil seperti ini, bahkan dia perhatiin? Tapi kalau beneran, kalau beneran.. Aduh, gue takut ngelanjutin pikiran ini. Tapi kuakui, buat ngebikin sebungkus bakmie GM ini menjadi begitu menyentuh, perlu bakat seorang jenius. Dan Brian sudah cukup berhasil melakukannya. Gue memang nggak tau ini juntrungannya ke mana, namun gue bener-bener terharu. Seneng. Sekaligus takut.

Gue takut jatuh cinta lagi.

Hari Kelima.

“Tha,”

Dia memanggil.

“Ya?”

“Filmnya, bagus ya..” katanya sambil berbisik.

“Iya, bagus banget.” jawab gue sambil menghapus air mata. Ampun, lebai banget.

Hari ini gue nonton bareng Brian. The Curious Case of Benjamin Button.

Filmnya memang belum rampung sih, tapi air mata gue sudah mengalir daritadi. Yang jadi pertanyaan, kenapa gue bisa end-up nonton sama dia? Yang terjadi, tadi Rina buru-buru pulang karena ada event gereja sore nanti, terus bakso mas Atong entah kenapa tutup lebih awal hari ini, papi mami juga lagi sibuk di kantor dan nggak bisa diajak lunch bareng, karena bosen gue mutusin buat muter-muterin GI aja, to kill time. Seraya gue memperhatikan layar raksasa di depan dengan penuh penghayatan; gue dibawa ke sebuah plot, sebuah alur imajiner.

Butterfly Effect.

Kalau saja Rina nggak ada event gereja sore nanti,

kalau saja mas Atong nggak menutup stall baksonya lebih awal,

kalau saja papi mami nggak terlalu sibuk hari ini buat diajak lunch bareng,

kalau saja gue memilih muter-muterin PI ketimbang GI,

gue nggak bakal ketemu sama Brian di tengah jalan.

Nggak bakal makan bareng dan muter-muterin GI berdua.

Nggak bakal nonton film ini di kursi yang bersebelahan.

Dan nggak bakal saling berpegangan tangan sekarang.

Mungkin ini takdir.

Hari Keenam.

Besok ulangan matematika. Sial, nggak masuk-masuk. Nggak ada semangat sama sekali buat ini.

Gue pengen ketemu.

Gue pengen ngobrol.

Gue pengen jalan berdua lagi.

“Halo?”

“Eh, halo, Tha. Tumben nelpon? Ada apa?”

“…”

“Bri, gue kangen sama lo.”

Gue rasa di antara kita sudah tidak ada lagi rahasia. 4 jam dialog nggak penting sudah berlalu, dan buku matematika belum gue sentuh sama sekali. Gue lupa. Gue terlalu bahagia ngedenger suaranya.

Ya, gue jatuh cinta.

Hari Ketujuh.

Kriet. Kriet. Kriet.

Bianglala ini masih berputar.

.

.

.

“Sebenernya aku..”

“Ya?”

“.. Um, itu.. Tha,”

“Hmm?”

“Kamu inget nggak kamu pernah bilang, kalau kamu dulu waktu kecil suka naik ke loteng yang tinggi kalau lagi marah atau lagi seneng, terus teriak-teriak? Kamu pikir kamu bisa ngeluapin semua perasaan kamu di atas sana.”

“Eehhh?! Se, serius gue pernah bilang gitu ke lo?”

“Iya.”

“J, jadi?”

“.. Bianglala ini adalah lotengku, Tha.”

Gue terdiam. Takjub.

“Di sini, di tempat yang tertinggi, aku biasa ngeluapin semua perasaan aku. Dan sekarang, aku pengen kamu denger.”

“Eh, Bri.. Tapi ini..”

Detik berikutnya, dia berteriak:

“WAHAI BUMI, DENGARKANLAH!! AKU SAYANG SAMA MARGARETHA SOENARYO ISMAN! SUDAH LAMA BANGET AKU MEMENDAM PERASAAN INI, DAN SEKARANG, AKU PENGEN SEMUANYA NGEDENGERIN, SEMUANYA TAU KALAU AKU BENER-BENER SAYANG SAMA DIA!”

Gue menangis. Menangis karena terharu. Menangis karena terlalu bahagia.

“Hh, Tha,” panggilnya sambil terengah-engah, “Kamu.. Mau jadi pacarku?”

Ya, akhirnya pertanyaan ini muncul. Pertanyaan yang selalu gue tunggu, dan sekaligus takut untuk gue jawab. Apa kata dunia entar kalau gue jadian sama Brian? Rina gimana? Mau backstreet? Mana enak. Gue pikirin mateng-mateng, walau gue tau gue sedang dikejar-kejar deadline.

Tapi,

perlukah berpikir panjang? Setelah semua yang sudah terjadi selama seminggu ini, gue makin yakin kalau Brian itu lelaki yang selama ini bener-bener mencintai gue dengan brilian. Walaupun mungkin itu bukan hal-hal yang besar, tapi Brian selalu ada buat gue dan memberikan apa yang gue butuhin. Mungkin cuma SMS. Atau bahasa tubuh. Atau telpon. Atau bakmie GM. Atau nonton bareng. Atau ngobrol. Atau kejujuran. Tapi buat gue, 7 hari terakhir ini, gue ngerasa sudah ngedapetin 7 tanda cinta yang paling romantis dari seorang Brian. Dan itu sudah cukup buat gue ngerasa dicintai lebih dari siapapun. Yang namanya cinta, nggak cuma tumbuh berdasarkan lama atau nggaknya dia dipupuk, tapi juga berdasarkan progresif nggaknya dia disampaikan. Yah, ini cuma pendapat gue sih. Ini yang sudah gue temukan di dalam Brian. Dan ini yang gue percaya. Terserah orang mau bilang apa, setuju atau nggak, tapi ini cinta menurut pandangan gue. Cinta versi gue. Titik.

***

Bianglala ini berhenti berputar. Bilik kami sudah sampai di bawah. Nampak orang-orang yang cemas menunggu gilirannya datang. Gue berpaling ke arah pria di depan gue yang nggak kalah cemasnya. Dia masih tegang, menunggu jawaban. Jujur sih, buat gue ini seperti sebuah pertanyaan retoris. Tapi memang kenyataannya belum ada kata “iya” yang keluar dari mulut gue.

Thank God.

Atas 7 hari.

Atas 7 tanda cinta.

Atas Brian.

Margaretha Soenaryo Isman, kini telah menemukan cinta.

Dan gue tersenyum lebar.

“Mas, satu putaran lagi ya.”

(Selesai)

“.. Gue kecewa ma lo, Jo. Gue bener-bener nyesel jadian ma lo..”

Then? Lo maunya apa sekarang?! Putus?!!”

“…”

“Iya, putus.”

***

Hari ini adalah hari yang membahagiakan. Warna langit yang cerah. Angin sepoi-sepoi. Sedapnya bakso Mas Atong yang masih tersisa di lidah gue. Ulangan kimia yang berhasil gue kerjain dengan sukses (menyontek). Nggak ada khotbahan apapun dari Rina. Dan pria ganteng yang baru saja turun dari mobil, menunggu gue di ujung jalan.

Ketua OSIS. Kapten basket cowo. Anak pengusaha tajir. Pacar gue.

“Udah nunggu lama, sayang?” tanyanya hangat seraya membuka pintu mobil.

“Nggak, Jo.. Baru aja pulang kok.” jawab gue sambil tersenyum.

“Ya udah, yok.”

“Yok.”

Jo ganteng. Asli ganteng banget. Cool. Baik hati. Tajir pula. Pacaran sama dia itu udah kayak jadi impian semua kaum Hawa di sekolah. But yet, I’m singled out. Haha, nggak bermaksud nyombong. Memang kadang ada banyak hal nggak terduga yang bisa ngebawa kita kepada cinta, dalam hal ini; basket. Gosip terbit sejak gue terpilih menjadi kapten basket cewe. Lalu? Ya biasalah. Secara dia kapten tim basket para lelaki, nggak jarang kita berdua ngumpul bareng buat chit chat soal latihan, pertandingan, dan sebagainya. Sesuai tradisi yang sudah berlaku di bumi ini, manusia berjenis kelamin beda yang sering ngumpul bareng berdua aja itu lazim dicurigai atau dikategorikan sebagai future couple in PDKT period. Jujur aja, lama-lama gue memang ngerasa malah ngelakuin lebih banyak percakapan nggak penting sama Jo ketimbang ngomongin hal-hal yang semestinya kita gubris. Hal-hal yang bahkan nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan basket. Kadang kita latihan basket bareng berdua sampai malam demi satu maksud yang jelas: biar Jo punya alasan buat nganterin gue pulang. Udang memang selalu bersembunyi di balik batu, saudara-saudari sekalian! Dan bukan sebuah kejutan, akhirnya tepat di tanggal yang sama pada hari ini, 3 bulan yang lalu, Jonas Rickson Handoyo dan Margaretha Soenaryo Isman officially jadian.

“.. Jadi? Kejutannya apa, Jo?” tanya gue penasaran.

“Haha, sabar, Tha.. Kalau gue bocorin sekarang mah entar nggak jadi spesial lagi, donk?” tanggapnya manis.

Mobil ini mendarat di sebuah rumah bergaya Eropa. Kesan pertama: mewah. Langsung aja gue berasumsi kalau bangunan ini adalah rumahnya. Saking tercengangnya, gue nggak sadar kita sudah turun dari mobil. Ini orang beneran tajir, pikir gue.

“.. Rumah lo, Jo?”

“Iya. Yok, masuk.”

Lantai keramik putih. Meja makan bundar. Kursi kayu antik. Dapur mungil nan enak dipandang. Chandelier. Foto keluarga terpampang di dinding. Perapian. Home Theatre TV dilengkapi dengan subwoofernya. Sofa panjang merah. Karpet hitam yang kelihatannya enak ditiduri. Tangga melingkar. Pintu bertuliskan: Jo.

“Yak, sampai. Silahkan masuk, tuan puteri.” dia membuka pintu.

Gue kaget, hampir pingsan oleh pemandangan yang begitu menakjubkan. Ya, ruangan itu kosong. Putih bersih. Selain dinding, lantai dan jendela, Gue cuma bisa ngeliat sebuah ranjang putih berukuran King size, yang di atasnya penuh dengan mawar putih. Perasaan gue seneng, bahagia, terharu, tapi sekaligus nggak enak.

“J, Jo.. Ini…”

“Buat lo, Tha.”

Gue serius nggak tau mesti ngomong apa. Rasanya air mata udah ada di ujung os lakrimal gue. Perasaan gue campur aduk kayak rujak cingur. Tapi belum aja sempat gue keluarin itu air mata, gue lebih dikagetin lagi oleh pria di depan gue yang tiba-tiba ngebuka bajunya. Demi apapun, kali ini rasanya gue bakal pingsan beneran.

“Tha, gue sayang banget sama lo.”

(Sial. Kalimat pembukanya manis banget.)

“Semuanya ini udah gue siapin demi hari ini..”

(Ya, gue tau. Serius gue terharu banget.)

“Makanya, Tha. Gue pengen treasure ini hari, soalnya hari ini bener-bener spesial. Gue pengen kita ngebikin hari ini jadi hari yang nggak terlupakan buat kita berdua. Karena itu, Tha, gue..”

(It’s not that I don’t want to, but.. OMG. Dia menanggalkan celananya.)

“J, Jo.. Gue nggak bisa..”

“Nggak papa , Tha. Nggak bakal terjadi apa-apa kok.. Gue nggak bakal kasar. Percaya deh.” tangannya mulai mencoba ngeraba-raba gue.

“Tapi gue beneran nggak bisa, Jo..”

Setelah kalimat tersebut, gue menangis.

“Tha, lo mesti realistis, donk.. Sekarang udah gak jamannya lagi pacaran ngikutin rules and regulationsnya bonyok kita. Tenang ajalah.”

“…”

“Gue sayang ma lo, Jo.. Tapi gue nggak bisa ngelakuin ini sekarang..”

Honey, semua cewe di bumi ini juga kayaknya nggak bakal ada yang nolak kalau ditawarin ngelakuin ini sama gue.. Apalagi setelah apa yang udah lo liat. Gue janji nggak bakal ada yang tau.. Okay?”

Gue kecewa. Setengah mati kecewa banget. Lo pikir ini amrik? Yang kayaknya setelah berumur 16, lo udah bisa ngelakuin seks seenak jidat?!

“Nggak. Gue pulang. Makasih “hadiah”nya ya, Jo.”

Gue ngebuka pintu, masih sambil menangis.

“Tha,” pria itu masih berjuang.

“Gue ini punya tato,” paparnya, “Tato jantung hati.”

Gue berhenti melangkah. Menunggu kalimat berikutnya.

“Gue udah berkali-kali dikecewain sama cewe, makanya gue bikin tato ini. Sekarang gue baru bisa percaya kalau cewe itu sayang sama gue, kalau dia udah ngeliat tato jantung hati gue..”

Gue masih terdiam.

“Dan lo, Tha.. Gue sayang ma lo!”

Bohong.

“Lo tinggal buka ini, dan lo bakal bisa ngeliat tato gue! Jadi gue bisa percaya sepenuhnya sama lo, Tha! Gue bisa tau kalau lo beneran sayang sama gue!”

.. Hah? Ngebuka celana dalam demi melihat tato?

Norak.

“Jo,” gue mencoba nenangin diri gue, “Bukan gini caranya biar lo percaya sama cewe lo..”

Isak tangis gue udah gue hisap dalam-dalam.

“Lo mesti tau, seks bukan segalanya, Jo.. Hal kayak gini malah bisa ngebikin cewe freak out!”

“Tha, lo itu pacar gue, kan? Dan gue tau lo masih mau pacaran sama gue. Dengerin baik-baik,” dia menuturkannya dengan sangat jelas, “Buat gue, CINTA ITU SAMA DENGAN SEKS.. Okay? Kami pria memang hidup buat itu! Kalau lo memang sayang sama gue, lo pasti bisa ngerti dan nerima gue apa adanya!”

“…”

Gue capek. Bahkan buat menangis pun juga capek.

“.. Gue kecewa ma lo, Jo. Gue bener-bener nyesel jadian ma lo..”

“Then? Lo maunya apa sekarang?! Putus?!!”

“…”

“Iya, putus.”

Gue lari meninggalkan lelaki itu di belakang. Gue nggak peduli lagi. Gue menangis, kenceng banget sampai rasanya orang-orang yang lewat pada ngeliatin. Selamat, Jo. Lo berhasil. Seumur hidup gue, gue nggak bakalan ngelupain hari ini. Terima kasih.

***

Tato jantung hati.. Iya, bener! Gue inget sekarang, pasti dia. Pasti si Jo. Gue nggak nyesel ngebaca koran nyasar ini di sini. Artikel ini nggak mungkin salah:

Mr. Cicak Memiliki Tato Jantung Hati di “Burung”nya?

“Dengan ini kayaknya memang Brian nggak salah apa-apa..” sahut gue tersenyum sambil meneguk tetes terakhir kopi Starbucks.

“Tha,”

Seorang pria menghampiri gue. Dia berkeringat. Seperti habis lari-lari dikejar anjing rabies.

“Udah nunggu lama, Tha?” tanyanya sambil menggaruk kepala, sekaligus ngos-ngosan. Gelagat meminta maaf.

“Ng, Nggak kok, Bri.. Baru aja.” aih, gue salting.

“Ya udah, yok.”

“Eh, kemana?”

“Saya ada kejutan buat kamu.”

“…”

Sejenak gue terdiam.

Sial. Kok gue ngerasa deja vu. Gue pernah ngalamin hal ini. Ya, persis sama. Seminggu yang lalu bersama seorang pria bertato jantung hati, namanya Jo. Memang nggak adil buat menyamakan Jo dengan Brian, tapi jujur, gue trauma beneran.

“Me, memang apaan, Bri?”

“Yah, ikut aja deh. Kalau saya bilang sekarang, entar nggak jadi spesial lagi, kan?”

Dia tersenyum.

“…”

Mati gue.

(Bersambung)